#TarawihInstagrammable
Hastag #TarawihInstagramable sempat
trending topik di Twitter. Saya cukup geli ngebaca twit dan balasan tentang hastag
tersebut. Kenapa dan siapa orang yang menenggarai hastag tersebut tentu Anda
bisa membacanya di situs. Namun bukan itu yang bakal saya bawa disini, Tarawih
Instagrammable yang saya pakai sebagai judul hanya sebagai pengundang selera,
selebihnya ya tentang tarawih itu sendiri.
Dulu, ketika Nabi masih di Madinah,
beliau memang sempat melaksanakan Shalawat Tarawih. Waktu itu hanya dua malam
beliau melaksanakannya bersama para sahabat, selebihnya beliau melaksanakan
Shalat tersebut di rumah. Bagaimana hukumnya shalat tarawih? Sunnah. Karena memang
Imam Ghazali mengkategorikan Shalat Tarawih sebagai shalat tahunan, karena
hanya dilaksanakan dibulan Ramadhan atau bulan kesembilan dalam kalender
Hijriah.
Nah sekarang bagaimana? Bentuk tarawih
yang dilaksanakan sekarang itu adalah peninggalan sahabat, Khalifah Umar bin
Khattab. Beliau yang berinisiatif untuk melakukan shalat tarawih secara
berjamaah. Karena berdasar hadis, shalat berjamaah mempunyai nilai lebih daripada
sendirian. Hanya saja disini timbul persoalan, lebih utama manakah, shalat tarawih
sendirian atau berjamaah? Jika merunut pada zaman Nabi, tentu sendirian lebih utama,
karena hal tersebut bernilai sunnah.
Lagi pula, shalat sunnah di rumah
itu lebih utama daripada shalat sunnah di masjid. Begitu juga sebaliknya,
shalat wajib di masjid lebih utama daripada di rumah. Nah, karena mempertimbangkan
beberapa hal, seperti kadang mengantisipasi malas untuk shalat tarawih dan juga
keutamaan pahala shalat berjamaah, maka beberapa ulama sepakat bahwa shalat tarawih
secara berjamaah itu lebih dianjurkan.
Berapa rakaat, delapan atau dua puluh?
Itu terserah Anda. Karena di antara keduanya sudah banyak dalil yang
menerangkan, dan yang terpenting itu shalat daripada hanya memperdebatkan
jumlahnya. Wallahu a’lam.

Komentar (0)
Posting Komentar
Cancel