Tumben Kangen
[27 Februari 2018]
Lagi pengin jalan-jalan. Dan biasanya, lokasi favoritku di perpus. Kalo boleh jujur sih bukan karena buku, tapi lokasi yang agak sunyi dan pas buat baca buku. Nah, pas nulis catatan ini, aku sengaja di salah satu perpus di Surabaya. Entah, aku langsung masuk dan menuju koleksi sastra dimana aku menemukan beberapa tulisan yang cukuplah, buat modal baper.
Pas abis baca beberapa saat, aku langsung ke teras depan, disana ada tempat ngopi. Seneng pas aku tiba keinget seseorang, yang aku ceritakan sebelum-sebelumnya, orang yang ngajakin aku makan di dua episode awal. Langsung ngambil hape, nyari kontaknya,
“cek,” ku mengawali chatting, cukup cepat membalas pesan Whatsapp-ku
“iya, ada apa kak?”
“lagi ngapain?”
“gak ada nih, mau siap-siap kuliah”
“owalah”
“kenapa, kak?”
“gak ada, Cuma kangen aja”
“wiiih … tumben kangen?”
“wkwkwk … sana gih kalo mau kuliah“
“oke” dan biasanya, balasan terakhir dari dia sengaja aku nggak buka. Dibiarkan begitu saja. Mungkin aneh bagiku juga, harus nanya kabar, terus terang aku juga penasaran apa perlu seseorang ditanya kabarnya, sudah makan atau apalah setiap hari. Dan jika itu wujud dari perhatian, boleh juga.
Serasa masih asing bagiku untuk bertanya seperti itu. Sama halnya aku membayangkan bersama seseorang yang sudah menjadi pasangan sah bersamaku dan ia kusapa tiap hari, tak perlu bertanya bagaimana kabar, sudah makan atau belum karena kita melakukannya bersama.
Semua itu juga mengingatkanku pada pengajian subuh di pondok, guruku yang masih muda dan baru menikah beberapa bulan lalu berujar dalam sebuah pengajiannya, pacaran yang indah itu setelah nikah. Khayalanku masih belum berhenti, dan hanya sedikit teralihkan ketika seorang pelayan mengantarkan secangkir kopi kehadapanku.
Kulanjutkan, sebagai cowok mungkin ini bakal jadi catatan mimpi karena tidak bisa membayangkan saat-saat harus datang ke rumah sang calon dan bersama keluarga mengutarakan maksud kedatangan ingin meminang sekaligus menjadikannya pasangan sah. Itu juga, bagian khayalan di perpus waktu itu.
Its all about time. Walau demikian, kadang masih ada rasa ngiri pengin jalan-jalan bareng si doi, tapi entah. Hingga saat orang merasa bahwa dirinya hanya dibuat baper oleh kedatangan orang lain dalam hidupnya. Its all about time. Sambil nyari wireless earphone-ku dan dengerin lagu HIVI – Siapkah Kau Jatuh Cinta.

Komentar (0)
Posting Komentar
Cancel