Nuri Alva
Just a tech antusiast, hobbyist, a sate lover.
Tidak ada komentar

Being a Daddy Coder, Sitter, and Teacher


 

Kadang kalau lagi natap layar terminal atau ngoding backend di tengah malam yang hening, gue ngerasa jadi manusia paling logis se-dunia. Semua ada strukturnya. Kalau ada error, tinggal baca log-nya, cari stack trace-nya, lalu debug. Komputer itu jujur, dia cuma menjalankan apa yang kita perintahkan.

Tapi begitu pagi datang dan status berubah jadi daddy sekaligus sitter buat si kecil di rumah, semua teori logika yang gue pelajari bertahun-tahun rasanya mendadak deprecated.

Mencoba menerapkan prinsip clean code atau logika linier saat menghadapi bocil yang lagi tantrum atau minta digendong pas deploy aplikasi adalah sebuah kelakuan yang mendekati absurd. Tidak ada dokumen dokumentasi API mana pun di internet yang bisa menjelaskan kenapa sebuah mainan mobil-mobilan bisa mendadak bikin nangis sesenggukan hanya karena warnanya kurang merah. Hehehe.

Di sini gue sadar, mengasuh dan mendidik anak itu beda jauh sama bikin software.

Di dunia coding, kita ngejar presisi dan efisiensi. Kita mau semuanya berjalan otomatis dan predictable. Tapi di dunia parenting dan pendidikan, variabelnya tidak terbatas dan emosi tidak bisa di-parse jadi data boolean true atau false. Anak bukan program yang bisa kita atur logika if-else-nya sesuai kemauan kita.

Saat berperan jadi teacher di kelas, tantangannya bukan cuma soal menyalurkan transfer ilmu. Tapi soal bagaimana menurunkan ego seorang developer yang biasa gerak cepat, untuk mau melambat dan mendengarkan. Belajar sabar menjelaskan hal dasar berulang-ulang tanpa perlu menekan tombol reset.

Kadang riuh juga. Tangan kanan pegang mouse buat benerin syntax, tangan kiri nahan botol susu, sementara pikiran lagi memutar otak menyusun bahan ajar buat besok. Capek? Jelas. Tapi di balik semua keriuhan multi-tasking yang ugal-ugalan itu, ada kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh baris code tercanggih mana pun.

Teringat satu adegan ikonis dari film Iron Man, waktu Howard Stark meninggalkan pesan video buat Tony Stark. Seorang genius, teknokrat, dan pencipta teknologi tercanggih di zamannya itu dengan jujur bilang:

"My greatest creation... is you."

Sehebat-hebatnya robot, arsitektur sistem, atau aplikasi paling presisi yang pernah kita build, semuanya tidak akan pernah ada apa-apanya dibanding sosok kecil yang setiap hari memanggil kita di rumah.

Menjadi daddy coder, sitter, sekaligus teacher mengajari gue satu hal penting: proyek terbesar dan paling bernilai yang sedang kita bangun dalam hidup ini bukanlah aplikasi dengan jutaan pengguna, melainkan manusia kecil yang setiap hari menatap kita dengan penuh rasa percaya.

Dan untuk proyek yang satu itu, tidak ada kata rollback. Kita cuma perlu hadir, menikmati setiap bug kecil kehidupannya, dan belajar jadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Wassalam.

Komentar (0)

Posting Komentar

Cancel