Catatan Pranikah 01 - Contohnya, Bahtera!
Kadang aku mikir, dan sering menyamakan rumah tangga sebagai bahtera. Karena gak jarang juga dengernya istilah Bahtera Rumah Tangga. Menurutku aja sih, kalo kamu mau setuju juga gapapa, Bahtera itu dibuat atas kemampuan yang dimiliki kedua pasangan itu. Kemampuan disini masih umum loh.
Seberapa besar kemampuan yang kamu miliki untuk membangun Bahtera itu? Sejatinya kemampuan utama adalah mampu memberikan kesanggupannya untuk mengarungi samudera kehidupan dengan Bahtera kedua pasangan itu. Ribet yak bahasanya? Intinya tuh, kalo kamu udah sanggup buat hidup bareng pasanganmu, itu udah termasuk modal utama. Karena mo gimana pun, kalo belum sanggup, pasti berlayarnya setengah hati, setiap ombak kehidupan yang mengetuk bahtera, pasti akan disalahkan. Eaak, puitis banget.
Kata "Bahtera " kayaknya kurang enak dibaca, penulis ganti perahu aja atau kapan-kapan kalo lebih cocok makek "Bahtera" bakal tak pakek lagi. Jadi, modal utama adalah kesanggupan. Udah sanggup belum? Hal opsional lain adalah kemampuan-kemampuan yang sifatnya sebagai perkakas kehidupan. Kita ngomongin akhiratnya entar, apa aja sih? Misalnya nih ya,
Satu, pengetahuan. Ibaratnya orang mau berlayar, pengetahuan untuk berlayar tidak menjadi syarat agar orang bisa mengarungi lautan. Tanpa pengetahuan berlayar pun, dia masih mampu berlayar dengan perahu yang dimilikinya, karena alam akan selalu mengajarkan banyak hal kepada kita. Akan tetapi, kita akan membutuhkan lebih banyak kuota waktu untuk benar-benar mengerti apa yang sedang diajarkan oleh alam agar dipahami sebagai pengetahuan.
Contoh misal jika dalam rumah tangga, pengetahuan dalam mendidik anak, mengelola keuangan, meninjau keputusan pasangan hingga bahkan hal-hal yang sifatnya sepele seperti berdamai dengan masalah. Pengetahuan lain yang lebih umum seperti kemampuan-kemampuan atau skill. Khususnya cowok nih, harus bisa diandalkan mulai dari benerin atap bocor, ngecat dinding, sementara cewek kayak nyuci, masak, bikin cemilan buat keluarga.
Disini penulis sangat tidak setuju kalo harus membawa masalah gender, maskulinitas kayak kenapa cewek harus di dapur dan di kamar mandi? Penulis tak bermaksud demikian. Jika memang itu kenyataannya kayak cewek karir, why not? Sebenernya yang sering dilakukan dan dianggep tugas cewek itu bukanlah sebuah kewajiban. Lho iya tah? Heeh. Pada dasarnya kan, istri cukup berbakti aja pada suami, selebihnya enggak ada tugas spesifik yang dibebankan secara permanen kepada istri kecuali itu kewajiban alam seperti mengandung bayi, menyusui dan hal lainnya sementara mendidik anak adalah kewajiban bersama.
Kemudian harta gimana? Nah itu dia. Harta sebenernya gak menjadi prasyarat untuk memulai berlayar dalam samudera rumah tangga. Tetapi kan, semakin kamu ber-duit, kesempatan untuk membangun perahu yang lebih tahan tamparan ombak kehidupan akan lebih besar. Gak sedikit, hanya karena harta, perjalanan bahtera rumah tangga bisa tidak sesuai rute yang diinginkan. Iya gak? Tapi balik lagi semua pada syarat opsional pertama soal pengetahuan. Kalo orang ngerti alias tahu pada keadaan, pasti perahunya lebih tangguh karena paham cara mengendalikannya melawan ombak. Meski demikian, gak sedikit juga perahu yang hancur hanya karena kedua pasangan lupa tujuan pernikahan sebab harta yang sudah melimpah. Poin pentingnya, seniat apa kamu ingin berlayar? Karena kalo udah gak niat ya mo gimana lagi, putar arah, tarik sis, balik ke pantai.

Komentar (0)
Posting Komentar
Cancel